Fluktuasi Harga Daging Sapi

image

FLUKTUASI H ARGA DAGING SAPI
Oleh : Rachmat Setiadi
( LSPPI Bandung )

Secara teoritis , fluktuasi harga suatu komoditi di pasar ditentukan  oleh kekuatan tarik menarik antara permintaan dengan ketersediaannya. Demikian juga halnya dengan komoditas daging sapi. Kita ketahui bersama, bahwa harga daging sapi selalu menarik perhatian semua fihak serta  menjadi pembicaraan dan pemberitaan setiap menjelang puasa, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari besar keagamaan lainnya. Pasalnya, komoditi ini ternyata berkaitan dengan lebih dari 120 sektor lain dalam perekonomian. Oleh karenanya, perlu diupayakan agar tidak terjadi fluktuasi harga daging sapi yang sangat tajam agar tidak mengganggu perekonomian terutama dampak inflasi. 

Dilihat dari sisi Supply, kenaikan harga daging sapi, tidak terlepas dari ketersediaannya. Penyediaan daging sapi ini berasal dari hasil pemotongan sapi hidup (baik sapi lokal yang berasal dari dalam negeri maupun sapi impor ) , dan ada juga daging impor berupa daging beku/boks. Berdasarkan kedua hal tersebut, pemerintah telah menghitungnya secara cermat melalui Cetak biru swasembada daging sapi dan kerbau ,  serta  pelaksanaan “ Pendataan Sapi potong, Sapi perah dan Kerbau (PSPK) 2011” yang telah dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia tanggal 1-30 Juni 2011. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan para pihak yaitu :   jumlah sapi potong 14,8 juta ekor, sapi perah 597,1 ribu ekor dan kerbau 1,3 juta ekor. Padahal , data populasi sebelumnya hasil sensus susenas 2003 : jumlah sapi potong sekitar 10,2 juta ekor, dan kerbau 1,4 juta ekor.

Menurut pendapat pemerintah, dan  perhitungan cetak biru swasembada daging sapi 2014, ternyata hasil PSPK tersebut telah menunjukkan bahwa kondisi saat ini sebenarnya Indonesia telah masuk kepada situasi swasembada daging sapi secara nasional. Oleh karenanya, pemerintah menurunkan rasio impor daging dan sapi hidup pada tahun 2011 dan 2012 secara drastis. Impor Sapi bakalan yang semula ketika puncaknya mencapai 700 ribuan ekor di tahun 2009, menurun menjadi 500 ribuan ditahun 2011 dan kini di tahun 2012 sekitar 3 00 ribuan ekor. D emikian juga halnya dengan daging sapi dari sekitar 110 ribuan ton di tahun 2009, menurun menjadi 70 ribuan ton di tahun 2011 dan kini di tahun 2012 hanya 30 ribuan ton saja. Menurut proporsinya, rasio impor kini telah mencapai sekitar 17 %, sementara target swasembada daging,rasio impor sekitar (5-10)%. Apakah kondisi ini bisa dipertahankan ?? sementara fakta lapangan menunjukkan bahwa harga daging di kota Bandung melonjak tajam dari sekitar Rp. 60 ribuan per kg sekitar tiga bulan lalu, kini sekitar Rp 80 ribuan per kg untuk daging kelas satu. Biasa nya, kenaikan harga yang wajar  hanya terjadi sekitar 5 - 10 % saja, namun saat ini mencapai 20 - 30%. Kondisi ini berarti  kemungkinan besar ada masalah dalam pengadaannya, khususnya pengadaan sapi lokal di dalam negeri (???)

Sementara pihak menilai bahwa pengadaan sapi lokal di dalam negeri terkendala oleh sarana prasarana perdagangan sapi antar pulau, mulai dari pelabuhan muat/angkut, RPH dan alat transportasinya , serta sistem tataniaga yang tidak efisien, sehingga ketersediaan nya menjadi tidak lancar dan menyebabkan biaya tinggi. Namun demikian, sejak dikuranginya impor sapi dari Australia, dan kendala teknis yang harus dipenuhi melalui sistem suplly chain (yang dipersyaratkan oleh pihak Australia), s ecara otomatis pola pengadaan sapi dalam negeri mulai berubah.Semula , permintaan pasar ke pulau Sumatera dan Kalimantan dipenuhi oleh pangsa pasar sapi impor, dan kini dipenuhi oleh pengadaan sapi-sapi lokal. Alhasil, sapi-sapi lokal jantan dengan bobot badan diatas 350 kg, bergerak mengalir ke Sumatera dan Kalimantan karena harganya lebih baik ketimbang harga sapi di pulau Jawa. Akibatnya, sapi betina maupun sapi bakalan dan sapi perah menjadi sasaran peny ediaan daging sapi di P ulau J awa. Fenomena ini terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini, dan sepertinya terjadi anomali harga daging sapi, yaitu yang biasanya di musim panas dan  menjelang tahun ajaran baru sapi lokal akan membanjiri pasaran , diikuti dengan harga akan turun , ternyata harganya meningkat tinggi.

Di lihat dari sisi Demand,  kenaikan harga daging sapi dapat  terjadi akibat meningkatnya jumlah permintaan . Namun pada kondisi akhir-akhir ini, sesungguhnya tidak terjadi perubahan permintaan yang signifikan , karena yang berubah hanyalah permintaan industr i p engolahan daging sapi, sebagai akibat diturunkannya kapasitas impor daging beku . Dengan demikian, memang terjadi p eralih an pangsa konsumen rumah tangga ke pangsa konsumen industri. Perubahan yang cukup drasti s ini menyebabkan industr i p engolahan daging nampaknya mengalami kesulitan berusaha , karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan industrinya sesuai standar kualitas daging sapi impor. Jadi pada kasus ini, yang bermasalah adalah konsumen prosesor daging sapi bukannya konsumen rumah tangga. Hal lain yang tidak kalah menarik , adalah terjadinya perubahan pola konsumsi di periode menjelang puasa dan lebaran .  Yang lebih banyak dibeli oleh konsumen adalah jenis daging murni, se dangkan jeroan yang biasanya banyak dikonsumsi, hampir tidak ada yang membeli. Akibatnya, kompensasi harga jeroan tersebut dibebankan kepada harga daging sehingga harganya naik.

Berdasarkan  kepada fenomena terjadinya fluktuasi harga daging sapi yang terjadi, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian adalah : (1) Adanya dampak inflasi akibat fluktuasi harga daging sapi yang cukup tajam, (2) Terjadinya pemotongan sapi potong betina produktif di Pulau Jawa yang dapat menguras populasi di kemudian hari, (3) Terjadinya depopulasi sapi perah di Jawa Barat karena banyaknya pemotongan sapi perah produktif yang mengancam penurunan produksi susu. Hal ini pada gilirannya akan mengganggu pencapaian  swasembada daging sapi pada tahun 2014 yang berkelanjutan. Dalam hal ini, diperlukan kepedulian para pengusaha yang bergerak di sub sistem hilir untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku prosesing daging (RPH) dan transportasi nya,  sementara para pengusaha yang bergerak di budidaya harus mulai melakukan pembelian bakalan sapi-sapi lo k al dari peternak secara rasional . D alam hal ini pemerintah wajib memberikan insentif berupa akses kredit dengan bunga murah atau diberikan keleluasaan kepada BUMN peternakan untuk membantu menangani masalah ini. Demikian juga halnya dengan p emberlakuan sanksi hukum yang telah ditetapkan dalam UU No. 18/2009 tentang P eternakan dan K esehatan H ewan, terhadap pemotongan betina produktif. Jika ini diterapkan maka diharapkan akan menjadikan efek jera bagi pelaku pemotongan betina produktif yang marak terjadi. Semoga.

Mon, 12 Nov 2012 @23:20


1 Komentar
image

Thu, 3 Jan 2013 @22:19

geraldy

Menurut saya ini pasti ada pengelembungan data sapi yang ada ,conto kongkritnya aja. Saya sebagai peternak kecil2an diminta data sapi yang dikandang sendiri ada berapa terus yang di pelihara orang lain/kandang orang lain ada berapa,taroh aja sapi di kandang ada 50 ekor trus yang dititpin ke orang 30 ekor jadi jumlahnya 80 ekor. Tapi kenyataan di lapangan sapi yang ditiipin ke orang itu di data lagi tapi atas nama. Orang itu jadi sapi nya yang seharusnya ada 80 ekor jadi bertambah jadi 110 ekor padahal sapinya yang itu itu juga,dan kalau di daerah saya menurut bocoran baha perkepala sapi itu dapat 5000rupiah buat yang mendatanya jadi kalau data sapinya dapat 100ekor dia dapat uang 500rb,bukankah ini besar kemungkinan untuk menggelembungkan data sapi


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+1+1

Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Copyright © 2017 SNAKMA Cikole · All Rights Reserved
powered by sitekno